disruption era, pendidikan tinggi

Disruption Era, Dunia Pendidikan Tinggi Harus Peka dengan Perkembangannya!

Para praktisi dan akademisi mungkin juga orang awam sudah paham bahwa sekarang ini, dunia sedang dilanda fenomena disrupsi. Kondisi ini dirasakan para pebisnis hingga merambah dunia akademis. Apa sebenarnya yang dimaksud era disruptif? Umumnya, era disruptif adalah masa di mana banyak bermunculan inovasi yang tidak terlihat, tidak disadari oleh organisasi, instansi, perusahaan, atau lembaga yang telah mapan sehingga mengganggu jalannya tatanan sistem lama yang ada didalamnya dan berpotensi menghancurkan sistem lama tersebut.

Perubahan tatanan sistem lama yang masih manual digantikan sistem baru yang serba digital menjadikan adanya pergeseran tatanan kehidupan pada berbagai bidang, termasuk bidang jasa. Bidang jasa pelayanan, seperti transportasi, jasa makanan, jasa laundry, jasa kebersihan, jasa perbankan, jasa pendidikan, dan lain-lain ikut berubah seiring perubahan konsumen menuju arah era disrupsi yang lebih canggih dan maju.

Perguruan tinggi sebagai penyelenggara bidang jasa pendidikan juga mau tidak mau harus ikut berubah pada era disrupsi yang serba digital. Perguruan tinggi harus mampu menyelenggarakan pendidikan dengan menyesuaikan fasilitas sesuai kebutuhan para mahasiswa maupun lingkungan yang lebih luas (Baca : Kebutuhan Sistem Informasi dalam Perkembangan Perguruan Tinggi). Era disrupsi yang hadir pada zona waktu generasi milenial, membuat keadaan menjadi tidak sama.

Era disrupsi erat dengan kondisi teknologi digital yang semakin canggih sehingga bagi mahasiswa yang lahir di era serba digital ini memiliki budaya yang sangat berbeda dengan generasi lama. Mahasiswa berada pada dunia dimana akses terhadap informasi menjadi lebih mudah, jaringan yang lebih global, dengan komunikasi yang bersifat dua arah yang tidak bisa dikesampingkan oleh dosen sebagai tenaga pendidik. Mahasiswa era ini terbiasa berdialog dengan menggunakan platform sosial media dan tidak memandang seseorang lebih senior atau junior. Pada era disruptif ini pula, banyak muncul inovasi-inovasi baru dengan teknologi yang lebih mumpuni karena banyak orang dapat mendapat informasi, mengakses sumber ilmu tanpa harus menghadiri suatu kelas (Baca : Alasan Penting Memiliki Sistem Informasi Terintegrasi Untuk Perguruan Tinggi).

Ada beberapa prinsip yang harus dipegang oleh pendidik yang bisa diterapkan pada era disruptive, diantaranya :

1. Push Beyond Comfort Zone (Keluar dari zona nyaman)

Pendidik bisa menerapkan pola ajar dengan bentuk student centered learning dan remote learning pada aktivitas mengajar. Saat ini, model belajar 1 arah atau ceramah, dirasa tidak efektif karena mahasiswa bisa mencari informasi dengan mudah.

2. Works Toward Well Defined, Specific Goals (Bekerja dengan target atau capaian yang jelas)

Pendidik bisa memberikan materi atau tugas yang esensial, dengan tujuan yang clear, dan bisa ditangkap dengan baik oleh mahasiswa. Tugas pembelajaran dengan metode riset dapat diberikan kepada mahasiswa untuk memberi mereka pengalaman menerapkan riset model dan simulasi untuk memecahkan masalah secara langsung.

3. Focus Intently on Impactful Activities (Fokus memberikan aktivitas yang bermakna dan berdampak)

Dosen sebagai pendidik bisa bertanya kepada mahasiswa tentang penerapan lecture, role play & simulation, problem based learning, remote learning, collaborative learning, atau research based learning pada aktivitas belajar yang telah diberikan kepada mereka.

4. Receive and Respond High Quality Impact (Menerima dan Memberikan feedback berkualitas)

Pendidik bisa mengajak mahasiswa untuk membuat refleksi dan memberikan masukan / saran kepada dosen untuk mengembangkan teknik pendidikan yang lebih baik ke depannya. Selain itu, dosen juga harus membiasakan memberikan feedback atas tugas – tugas mahasiswa, agar mereka tahu di titik mana mereka harus memperbaiki kesalahan atau mempertahankan hal yang sudah bagus. Kebanyakan dosen hanya memberi tugas, tanpa memberikan feedback (karena tidak sempat).

5. Develop Mental Model of Expertise (Membentuk mental model seorang expert)

Dosen menerapkan pola pikir yang menjadikan mahasiswa expert setelah keluar dari kelas. Menggunakan expertise mental model ini secara langsung dan tak langsung akan membuat standar belajar dan mendidik naik.

Yang Menarik Lainnya
Leave a comment