“Mama Minta Pulsa”: Sebuah Refleksi

“Mama Minta Pulsa”: Sebuah Refleksi

Oleh: Hendro Kusuma

Kurang lebih hampir sekitar 1 bulan yang lalu, seorang kawan lama tiba-tiba menghubungi saya, meminta bantuan untuk memberikan masukan sebuah konsep ide bertemakan employee relations. Ide itu rencananya ditujukan untuk mengikuti sebuah kompetisi inovasi tahunan antar karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Mencapai efektivitas dan efisiensi kinerja adalah misinya. Tanpa berpikir jauh, lalu saya pun mengamini kehendaknya.

Sebuah tagline terkesan provokatif terpampang pada email yang saya terima, yaitu “Mama Minta Pulsa”. Sejenak, saya sempat tertegun dan teringat akan tagline ini. Rasanya cukup familiar di benak saya. Tidak asing. Awalnya saya bingung. Terdorong rasa penasaran, sebuah berkas lampiran pun saya unduh dari email tersebut. Lalu, saya baca hingga tuntas.

“Mama Minta Pulsa”, demikian judulnya. PULSA disini ternyata adalah singkatan dari kata kerja PULL UP (menarik) & SAVE (menyelamatkan). Pull Up bermaksud menarik kemampuan karyawan (ibarat karet). Sedangkan Save maksudnya yaitu menyelamatkan passion dan spirit karyawan, melalui cross development yang melibatkan pihak internal keluarga. Kurang lebih demikian dalam deskripsi konsepnya. Dari sini saya mulai bisa mendapatkan gambarannya paling tidak.

Secara garis besar, konsep tersebut berupaya untuk membangun pola komunikasi secara lebih intens terhadap karyawan-karyawan yang “under perform”. Setiap bulan sekali, secara bertahap supervisor atau manager melakukan kunjungan silaturahmi kepada orangtua (khususnya ibu) untuk menyampaikan kondisi sang anak tersebut dengan pola komunikasi non-formal. Kemudian selama 3 bulan ke depan, dilakukan proses performance evaluation. Jika perubahannya positif –performance appraisal score-nya naik–, sang Ibu diganjar reward.            

Hal ini mengingatkan saya kembali tentang urgensi dari sebuah employee relations. Dari perspektif komunikasi, employee relations merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas kehumasan. Dalam kaitan dengan kegiatan kehumasan, yang paling penting adalah bagaimana merancang sistem komunikasi yang mampu menyampaikan pesan secara internal, sehingga bisa dipahami atau dikenal oleh para karyawan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan saling pengertian antara pegawai, ataupun antara pimpinan dengan semua pegawai dalam sebuah organisasi.

“Mama Minta Pulsa” adalah salah satu dari sekian banyak ide yang terlahir untuk menekan laju dari skala turn over yang tinggi pada perusahaan. Turn over didefinisikan sebagai tingkat pekerja yang meninggalkan pekerjaan atau perusahaan. Under performance merupakan salah satu penyebabnya. Turn over intentions (intensi keluar) adalah kecenderungan atau niat karyawan  untuk  berhenti bekerja dari pekerjaannya (Zeffane, 1994). Turn over dapat berupa pengunduran diri, perpindahan keluar unit organisasi, pemberhentian atau kematian anggota organisasi.

Turn over dapat terjadi secara sukarela (voluntary turn over) maupun secara tidak sukarela (involuntary turn over) (Robbins, 1996). Adapun contoh voluntary turn over dapat berupa pengunduran diri, pindah, dll. Sedangkan involuntary turn over adalah berupa penghentian hubungan kerja yang dilakukan oleh organisasi (PHK).

Voluntary turn over merupakan keputusan karyawan untuk berhenti dan meninggalkan organisasi secara sukarela. Salah satu penyebabnya adalah seberapa menarik pekerjaan yang ada saat ini, dan tersedianya alternatif pekerjaan yang lainnya. Ini berkaitan dengan faktor kepuasan kerja dari seorang karyawan (employee satisfaction). Sebaliknya, involuntary turn over atau pemecatan menggambarkan keputusan pemberi kerja (employer) untuk menghentikan hubungan kerja dan bersifat uncontrollable bagi karyawan yang mengalaminya.

Selama 2016, terdata sudah 56 kasus indisipliner telah terjadi di kantor regional area, perusahaan tempat kawan saya bekerja. Melalui pendekatan employee relations yang dibangunnya itu, mampu menekan angka turn over secara signifikan. Banyak benefit yang didapat oleh perusahaan dari proses tersebut.  Mulai dari cost reduction untuk proses rekrutmen karyawan baru, peningkatan tingkat achievement, nilai –budaya malu– dari keluarga yang senantiasa terbawa dalam aktifitasnya bekerja (high well-being attitude), hingga akhirnya skill karyawan yang semakin terdongkrak.

Employee Engagement

Employee engagement adalah ikatan kerja yang secara penuh melibatkan diri pada suatu pekerjaan. Mengutamakan pekerjaan, bersungguh-sungguh menyelesaikan pekerjaan dengan tidak menunda-nunda dan menggunakan jam kerja sebagaimana mestinya (etos kerja). Untuk mencapai tujuan suatu organisasi, employee engagement merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Employee engagement adalah hasrat anggota organisasi terhadap pekerjaan mereka dimana mereka bekerja dan mengekspresikan diri mereka secara fisik, kognitif, dan emosi selama melakukan pekerjaan (Kahn, 1990; Albrecht, 2010).            

Sense of belonging itu basisnya. Banyak kasus karyawan resign akibat masalah sepele dengan rekan kerja atau atasannya. Pemimpin hendaknya mampu menginspirasi karyawannya untuk terus maju dan meningkatkan kapasitas dirinya. Menjadi pamong (mengemong). Hubungan interaksi/komunikasi timbal balik yang baik sehingga karyawan merasa engage dengan pekerjaannya.

“Mama Minta Pulsa”, mengejawantahkan seorang pemimpin yang bisa menjadi pamong bagi sub-ordinatnya. Pemimpin yang membuka kepedulian –karena tahu masalahnya–   bukan atas dasar faktor like or dislike. Dari situlah kemudian dapat mewujudkan tujuan organisasi perusahaan.

Sumber image: http://images.techhive.com

Aplikasi mCity Gamatechno

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*